Kamis, 14 Juni 2012

Antropologi dan Kesehatan


TUGAS ANTROPOLOGI KESEHATAN
BAGIAN PROMOSI KESEHATAN DAN ILMU PERILAKU
FKM UNHAS MAKASSAR

Oleh: MUSYARRAFAH HAMDANI
















1.      Apa pentingnya anda sebagai calon ahli kesehatan masyarakat mempelajari antropologi kesehatan.
Jawab:
Antropologi merupakan istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata. Jadi, secara keseluruhan antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi Kesehatan adalah disiplin yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budaya dari  tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang memengaruhi kesehatan dan penyakit pada manusia (Foster/Anderson, 1986; 1-3).
Uraian definisi antropologi kesehatan di atas jika dikaitkan dengan peran yang akan diemban oleh seorang calon kesehatan masyarakat di bidang promosi kesehatan dan ilmu perilaku, mempelajari antropologi kesehatan sangat penting. Hal ini karena seorang ahli kesmas di bidang promosi kesehatan dan ilmu perilaku berperan dalam proses perubahan perilaku masyarakat menjadi PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Sebagaimana diketahui bahwa perilaku masyarakat akan selalu dipengaruhi oleh budaya setempat. Dengan mempelajari antropologi kesehatan maka seorang calon ahli kesmas di bidang promosi kesehatan dan ilmu perilaku dapat mengetahui bagaimana budaya mempengaruhi tingkah laku (perilaku) masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung akan memengaruhi kesehatan manusia bersangkutan.
     
2.      Uraikan minimal dua kasus masalah kesehatan masyarakat dilihat dari persfektif antropologi kesehatan.
Jawab:
Kasus I
Adat istiadat yang mempengaruhi kesehatan salah satu contohnya adalah tradisi yang terjadi di daerah NTB. Masyarakat di sana terbiasa melakukan persalinan dengan cara berjongkok, pengasapan ibu, maupun kompres panas pada vagina. Hal ini menyebabkan demam nifas yang mengakibatkan kematian, sehingga angka kematian ibu di daerah itu menjadi yang tertinggi (pertama) di Indonesia.

Kasus II
Banyaknya nilai-nilai yang ada di masyarakat juga mempengaruhi kesehatan. Untuk nilai-nilai yang menunjang kesehatan tentunya dipelihara, sementara nilai-nilai yang merugikan kesehatan harus diubah. Contoh pada suku tertentu yang sangat meninggikan nilai anak laki-laki maka program keluarga berencana tidak berhasil pada keluarga yang belum memiliki anak laki-laki sekalipun baik secara kondisi kesehatan, jumlah anak yang sudah dimiliki maupun sosial ekonomi tidak menunjang.

Kasus III
Salah satu perilaku yang berakar pada sosial budaya dan berhubungan dengan kesehatan adalah perilaku menyirih. Tradisi mengunyah sirih merupakan warisan budaya silam, lebih dari 3.000 tahun yang lampau  pada zaman neolitik. Diperkirakan sekitar 200 juta orang di dunia mengkonsumsi sirih dan kebiasaan ini sekarang tersebar luas di Asia Tenggara dan Asia Selatan (Natamiharja, 2002). Studi ini meneliti mengenai perilaku menyirih di wilayah Sumatera Utara yaitu pada suku Karo.
Perilaku menyirih sangat sulit untuk dihilangkan karena dahulu perilaku ini berhubungan dengan adat-istiadat yaitu pada acara pertunangan dan pernikahan. Perilaku menyirih juga sangat erat hubungannya dengan kepercayaan suku Karo. Perilaku menyirih pada masyarakat Karo sudah ada sejak zaman dahulu. Sirih digunakan bila seseorang jatuh sakit atau lemah badannya, meninggal dunia untuk meramal, untuk penghormatan, pada acara merdang, pada upacara berkeramas, untuk mengusir roh, pada upacara ngkuruk emas (mengambil emas), dan upacara muat kertah (mengamnil kertah).
Kepercayaan bahwa mengunyah sirih dapat menghindari penyakit mulut seperti mengobati gigi yang sakit dan nafas yang tak sedap kemungkinan telah mendarah daging di antara para penggunanya. Padahal efek negatif menyirih dapat mengakibatkan penyakit periodontal, adanya lesi-lesi pada mukosa mulut, seperti sub mucous fibrosis, oral premalignant, bahkan dapat mengakibatkan kanker mulut.

3.      Jelaskan dari persfektif antropologi mengenai transisi epidemiologi Indonesia.
Jawab:
Transisi Epidemiologi adalah keadaan yang ditandai dengan adanya perubahan dari mortalitas dan morbiditas yang dulunya lebih disebabkan oleh penyakit infeksi (infectious disease) atau penyakit menular (communicable disease) sekarang lebih sering disebabkan oleh penyakit-penyakit yang sifatnya kronis atau tidak menular (non-communicable disease) dan penyakit-penyakit degeneratif.
Apabila transisi epidemiologi dilihat dari perspektif antropologi, dapat dikatakan budaya turut berperan dalam proses terjadinya transisi epidemiologi. Namun, seperti apa pengaruhnya akan diuraikan lebih lanjut. Secara umum, hal yang paling mencolok dari transisi epidemiologi adalah terjadinya transformasi penyakit, dari infeksi dan degeneratif.
Dalam masyarakat, seringkali berkembang budaya turun-temurun yang sebenarnya sangat memengaruhi kesehatan. Misalnya, budaya penyajian rokok pada acara perkawinan adat bugis, secara tidak langsung tanpa berusaha menyalahkan budaya, budaya ini telah mendukung peningkatan jumlah perokok dan risiko kanker paru yang termasuk dalam penyakit degeneratif.
     
      Sumber Referensi:

Tidak ada komentar: